Biar Isi Bacaan Nggak Cepat Menguap
Selesai membaca satu buku, rasanya banyak yang didapat. Seminggu kemudian ada teman yang tanya isinya apa, dan yang keluar cuma "bagus, kok". Judulnya masih ingat, beberapa kalimat juga, tapi alur pikirannya sudah samar.
Saya termasuk orang yang gampang lupa kalau tidak mencatat, dan blog ini pun awalnya lahir dari situ. Di luar urusan kerja, saya suka membaca esai dan filsafat ringan. Masalahnya sama saja: kalau cuma dibaca, isinya cepat hilang.
Ternyata ini wajar. Psikolog Jerman Hermann Ebbinghaus menguji ingatannya sendiri, dan hasilnya yang terbit pada 1885 menunjukkan bahwa lupa paling cepat terjadi tidak lama setelah belajar, lalu melambat. Untungnya, ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa menahan laju lupa itu. Ini yang menurut saya paling gampang dicoba.
Tulis Ulang dengan Kata-Kata Sendiri
Menandai kalimat pakai stabilo atau menyalin kutipan memang terasa produktif, padahal kalimatnya tetap milik penulis buku. Begitu satu bab selesai, coba tutup bukunya, lalu tulis dua atau tiga kalimat soal apa yang barusan dibahas, pakai bahasamu sendiri.
Kalau ternyata susah, berarti bagian itu belum benar-benar nyantol. Lebih enak ketahuan sekarang daripada nanti, saat idenya mau dipakai.
Satu Catatan, Satu Ide
Niklas Luhmann, sosiolog asal Jerman, terkenal dengan kumpulan kartu catatannya (Zettelkasten) yang jumlahnya puluhan ribu. Tiap kartu hanya memuat satu ide, dan kartu-kartu itu saling merujuk. Dari kumpulan itu dia menulis puluhan buku.
Kita tidak perlu serajin itu. Cukup biasakan satu catatan untuk satu ide, dengan judul berupa kalimat utuh, misalnya "Kebiasaan kecil lebih mudah dipertahankan daripada target besar". Judul seperti itu langsung mengingatkan isinya, beda dengan judul "Bab 3".
Coba Jelaskan ke Orang Lain
Bayangkan kamu menjelaskan isi bacaan ke teman yang belum pernah membacanya. Cara ini sering disebut teknik Feynman, dari nama fisikawan Richard Feynman yang dikenal jago menjelaskan hal rumit dengan bahasa sederhana.
Bagian yang bikin kamu terbata-bata, atau terpaksa meminjam istilah dari buku, adalah bagian yang perlu dibaca lagi. Kalau ada teman yang benar-benar mau mendengarkan, lebih bagus lagi, karena pertanyaan mereka sering menunjukkan lubang yang tidak kita sadari.
Simpan Pertanyaannya Juga
Membaca esai sering memancing reaksi seperti "masa sih?" atau "ini mirip dengan yang pernah saya alami". Reaksi seperti itu layak dicatat. Pertanyaan yang belum terjawab memberi alasan untuk kembali ke topik itu, dan ide yang dikaitkan dengan pengalaman sendiri biasanya lebih awet diingat.
Ulangi dengan Jeda
Ingat temuan Ebbinghaus tadi? Karena lupa paling cepat terjadi di awal, pengulangan paling berguna justru tidak lama setelah membaca. Baca lagi catatanmu keesokan harinya, lalu seminggu kemudian, lalu sebulan kemudian. Cukup beberapa menit, karena yang dibaca ulang hanya catatannya.
Sebelum membuka catatan, coba ingat dulu apa saja yang masih nempel. Mengingat tanpa melihat memang terasa lebih berat, tapi usaha itulah yang membuat ingatan bertahan lebih lama.
Contoh Bentuk Catatannya
Supaya lebih kebayang, ini kerangka yang bisa dipakai untuk satu catatan:
- Judul: satu kalimat yang merangkum idenya.
- Isi: dua atau tiga kalimat dengan kata-kata sendiri.
- Pertanyaan: hal yang masih mengganjal atau ingin dicari tahu.
- Terkait: catatan lain yang membahas hal serupa.
- Sumber: judul buku atau tautan, plus halamannya.
Alatnya bebas, mau buku tulis atau aplikasi catatan di HP. Yang penting gampang dibuka lagi.
Kalau mau mulai, tidak perlu menunggu buku tebal. Ambil satu esai atau satu bab yang sedang kamu baca minggu ini, lalu buat tiga catatan saja. Minggu depan, coba ingat isinya tanpa membuka apa pun, lalu bandingkan dengan biasanya.